from pathlib import Path

p = Path("dokumen/Laporan_FS_CMU_GoogleDocs_Rapih.md")
s = p.read_text()

bab7 = r"""BAB 7 ANALISIS KEBUTUHAN PELAYANAN RUMAH SAKIT

7.1 Analisis Pelayanan dan Teknologi

Analisis kebutuhan pelayanan rumah sakit pada pengembangan Central Medical Unit (CMU) RSUD KH Ahmad Hanafiah - Sukadana diarahkan untuk memastikan bahwa pembangunan gedung tidak hanya menjadi penambahan ruang fisik, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan layanan prioritas, memperbaiki alur pasien, memperkuat layanan jantung, dan meningkatkan keselamatan pasien. CMU dirancang sebagai gedung layanan terintegrasi yang menghubungkan IGD, diagnostik cepat, ruang tindakan/OK emergensi, ICU/ICCU/HCU, rawat inap KRIS, farmasi satelit, laboratorium/radiologi cepat, rehabilitasi medik, dan sistem digital.

Pengembangan pelayanan CMU perlu memperhatikan empat dasar utama: pertama, kebutuhan masyarakat Lampung Timur terhadap layanan rujukan yang dekat; kedua, demand layanan jantung yang sudah terbukti dari kunjungan poli jantung sekitar 600-800 pasien per bulan; ketiga, kebijakan nasional penguatan jejaring layanan KJSU-KIA/SIHREN; dan keempat, kebutuhan modernisasi rumah sakit melalui digitalisasi SIMRS/RME, dashboard manajemen, dan integrasi BPJS/SISRUTE.

Kementerian Kesehatan melalui transformasi layanan rujukan dan SIHREN mendorong penguatan layanan prioritas KJSU-KIA, termasuk jantung, stroke, uronefrologi, kanker, dan KIA. Program tersebut menargetkan pemerataan kemampuan layanan rujukan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota sampai 2027. Dengan demikian, pengembangan CMU dan layanan jantung RSUD KH Ahmad Hanafiah memiliki relevansi kuat dengan arah kebijakan nasional.

7.1.1 Pelayanan

Pelayanan CMU diposisikan sebagai layanan terintegrasi berbasis alur pasien. Pasien yang datang melalui IGD akan menjalani triase, stabilisasi, diagnostik cepat, tindakan emergensi bila diperlukan, observasi akut, perawatan intensif, atau rawat inap KRIS. Pasien jantung dapat mengakses emergency cardiac response, pemeriksaan EKG, laboratorium, radiologi, echocardiography, Cathlab, ICCU, dan rehabilitasi medik jantung secara lebih terkoordinasi.

Prinsip utama pelayanan CMU adalah one patient flow, yaitu pasien tidak dipindahkan berulang tanpa alasan klinis. Fungsi ruang, SDM, alat kesehatan, sistem informasi, dan keputusan klinis perlu dirancang agar mendukung pelayanan yang cepat, aman, dan terdokumentasi. Dengan konsep ini, CMU menjadi simpul layanan akut dan rujukan yang memperpendek waktu dari kedatangan pasien sampai diagnosis, tindakan, dan keputusan rawat/rujuk.

Tabel 7.1 Rantai Pelayanan CMU

| Tahap Layanan | Fungsi | Output Klinis yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Triase dan admisi | menentukan tingkat kegawatan pasien | pasien prioritas ditangani cepat |
| Resusitasi/stabilisasi | menangani kondisi mengancam nyawa | kondisi vital stabil |
| Diagnostik cepat | EKG, lab, radiologi, pemeriksaan penunjang | diagnosis awal lebih cepat |
| Tindakan emergensi | OK emergensi/ruang tindakan/Cathlab | tindakan tepat waktu |
| Observasi akut | pemantauan pasien pasca tindakan/stabilisasi | keputusan rawat/pulang/rujuk lebih tepat |
| ICU/ICCU/HCU | perawatan pasien kritikal dan jantung | keselamatan pasien meningkat |
| Rawat inap KRIS | perawatan lanjutan sesuai standar | mutu rawat inap setara dan aman |
| Rehabilitasi/kontrol | pemulihan dan pencegahan kekambuhan | continuity of care terjaga |

7.1.1.1 Jenis Pelayanan

Jenis pelayanan yang menjadi fokus CMU meliputi pelayanan gawat darurat, pelayanan jantung terpadu, pelayanan tindakan emergensi, pelayanan rawat intensif, pelayanan diagnostik cepat, pelayanan rawat inap KRIS, dan pelayanan digital pendukung. Setiap pelayanan harus memiliki hubungan fungsi yang jelas agar tidak terjadi fragmentasi alur pasien.

Pelayanan gawat darurat menjadi pintu masuk utama pasien akut dan rujukan. Pelayanan ini harus dilengkapi triase, resusitasi, observasi, ruang tindakan, area dekontaminasi bila diperlukan, serta akses langsung ke diagnostik cepat. Layanan jantung terpadu menjadi unggulan karena didukung demand pasien, keberadaan dokter spesialis, dan rencana pemanfaatan Cathlab. Sementara itu, ICU/ICCU/HCU berfungsi sebagai tulang punggung keselamatan pasien kritikal dan pasien jantung akut.

Tabel 7.2 Jenis Pelayanan Prioritas CMU

| Jenis Pelayanan | Kebutuhan Ruang/Fungsi | Catatan Pengembangan |
|---|---|---|
| IGD modern | triase, resusitasi, observasi, dekontaminasi | prioritas response time dan keselamatan pasien |
| Emergency cardiac care | EKG cepat, obat emergensi, monitor, defibrilator | terhubung dengan poli jantung, Cathlab, ICCU |
| Diagnostik cepat | laboratorium cepat, radiologi cepat, echo | mendukung keputusan klinis cepat |
| Ruang tindakan/OK emergensi | tindakan minor, emergensi, stabilisasi | perlu alur steril dan recovery |
| ICU | pasien kritikal non-kardiak | ventilator, monitor, nurse station, gas medik |
| ICCU | pasien jantung akut/pasca Cathlab | monitor jantung, defibrilator, protokol ACS |
| HCU | pasien transisi dari ICU/ICCU | monitoring intermediate |
| Rawat inap KRIS | ruang rawat standar JKN | mengikuti 12 kriteria KRIS |
| Rehabilitasi medik jantung | pemulihan pasca akut | integrasi rawat jalan dan edukasi PTM |
| Digital workflow | SIMRS, RME, dashboard, BPJS, SISRUTE | data real time dan monitoring KPI |

7.1.1.2 Kapasitas Rawat Inap

Kapasitas rawat inap CMU harus dihitung berdasarkan data primer RSUD, yaitu jumlah kunjungan IGD, rawat jalan, rawat inap, jumlah hari rawat, BOR, ALOS, TOI, BTO, NDR, GDR, rujukan masuk, rujukan keluar, 10 besar penyakit, kasus jantung, kasus stroke, kasus DM/hipertensi, serta kapasitas tempat tidur eksisting. Pada tahap ini data tersebut belum lengkap, sehingga analisis kapasitas masih bersifat kerangka dan perlu diverifikasi pada FS final.

Rumus dasar kebutuhan tempat tidur dapat menggunakan pendekatan jumlah pasien rawat inap dikalikan rata-rata lama rawat, dibagi hari layanan dan target BOR. Untuk ICU/ICCU/HCU, perhitungan perlu disesuaikan dengan clinical pathway, rata-rata lama perawatan intensif, kasus pasca Cathlab, kasus ACS, kasus gagal napas, kasus pasca tindakan, dan kebutuhan isolasi. Target BOR yang digunakan harus realistis agar pelayanan efisien tetapi tidak menyebabkan overcrowding.

Tabel 7.3 Kerangka Kapasitas Rawat CMU

| Unit Rawat | Basis Perhitungan | Data yang Harus Dilengkapi |
|---|---|---|
| Observasi IGD | kunjungan IGD dan lama observasi | pasien IGD 3-5 tahun, waktu tunggu, kasus akut |
| ICU | kasus kritikal dan ALOS intensif | data ICU/HCU, ventilator, mortalitas, rujukan |
| ICCU | pasien jantung akut dan pasca Cathlab | data poli jantung, ACS, Cathlab, Sp.JP |
| HCU | pasien transisi intensif ke rawat | BOR HCU, lama rawat, kasus intermediate |
| Rawat inap KRIS | pasien rawat inap dan standar KRIS | TT eksisting, BOR, ALOS, jenis ruang |
| Recovery tindakan | volume tindakan emergensi/Cathlab | tindakan, recovery time, komplikasi |

Untuk dokumen kelayakan awal, kapasitas CMU sebaiknya dinyatakan sebagai kapasitas indikatif yang akan dimatangkan pada tahap master plan, DED, dan business plan. Kapasitas final perlu memperhatikan luas bangunan 4 lantai, efisiensi net-to-gross area, kebutuhan ruang MEP, standar koridor rumah sakit, lift pasien, nurse station, ruang isolasi, ruang staf, dan ruang penunjang non-medis.

7.1.1.3 Layanan Unggulan

Layanan unggulan CMU adalah layanan jantung terpadu. Dasar pemilihannya adalah demand poli jantung yang mencapai sekitar 600-800 pasien per bulan, keberadaan dokter spesialis jantung, bantuan alat Cathlab senilai sekitar Rp17,5 miliar dari Kementerian Kesehatan, tingginya faktor risiko hipertensi dan diabetes melitus di Lampung Timur, serta kesesuaian dengan prioritas nasional KJSU-KIA.

Layanan unggulan jantung tidak hanya berupa Cathlab, tetapi harus dibangun sebagai ekosistem layanan. Ekosistem tersebut meliputi emergency cardiac response 24 jam, poli jantung terpadu, EKG, echocardiography, laboratorium penanda jantung, radiologi, Cathlab, ICCU, ICU, farmasi, rehabilitasi medik, edukasi pasien, follow-up rawat jalan, dan jejaring rujukan dengan rumah sakit pengampu.

Tabel 7.4 Kriteria Layanan Unggulan Jantung CMU

| Kriteria | Kondisi / Kebutuhan |
|---|---|
| Demand | poli jantung 600-800 pasien/bulan dan potensi kasus PTM |
| SDM | minimal dokter Sp.JP, dokter umum terlatih, perawat cardiac care, analis, radiografer |
| Sarana | ruang Cathlab, ICCU, ICU, recovery, farmasi, diagnostik cepat |
| Alat | Cathlab, EKG, echo, monitor, defibrilator, ventilator, syringe/infusion pump |
| Klinis | protokol ACS, gagal jantung, aritmia, hipertensi emergensi, rujukan balik |
| Mutu | response time, door-to-ECG, door-to-treatment, mortalitas, readmission |
| Jejaring | RS pengampu, puskesmas, PSC/ambulans, SISRUTE |
| Keuangan | analisis tarif, klaim JKN, consumable Cathlab, maintenance, utilisasi |

Pengembangan layanan jantung sebaiknya dilakukan bertahap. Tahap awal adalah memperkuat emergency cardiac care, EKG cepat, echo, klinik jantung, ICCU, dan protokol rujukan. Tahap berikutnya adalah mengoperasikan Cathlab dengan dukungan SDM, perizinan, pemeliharaan alat, persediaan bahan habis pakai, dan pembiayaan yang memadai. Tahap optimalisasi adalah membangun layanan rehabilitasi jantung dan registri pasien jantung berbasis RME.

7.1.2 Teknologi Medis

Teknologi medis CMU harus dipilih berdasarkan kebutuhan layanan prioritas, keselamatan pasien, kesiapan SDM, kemampuan pemeliharaan, ketersediaan consumable, integrasi data, dan keberlanjutan pembiayaan. Pengadaan alat tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus menjadi bagian dari rencana operasional layanan. Alat bernilai tinggi seperti Cathlab membutuhkan rencana utilisasi, SDM operator, teknisi, perizinan, radiasi, bahan habis pakai, kontrak pemeliharaan, dan integrasi klaim.

Teknologi medis utama untuk CMU mencakup alat resusitasi, monitor pasien, ventilator, defibrilator, EKG, echocardiography, infusion pump, syringe pump, bed ICU, central monitor, alat tindakan emergensi, dukungan laboratorium cepat, radiologi cepat, serta teknologi digital seperti RME, order elektronik, e-prescribing, dashboard bed management, dan integrasi BPJS/SISRUTE.

Tabel 7.5 Kebutuhan Teknologi Medis Prioritas CMU

| Area Layanan | Teknologi/Alat Prioritas | Catatan Operasional |
|---|---|---|
| IGD/resusitasi | monitor, defibrilator, ventilator transport, suction, crash cart | siap 24 jam dan mudah dijangkau |
| Cardiac emergency | EKG, cardiac monitor, defibrilator, obat emergensi | protokol door-to-ECG dan ACS |
| Cathlab | angiography system, injector, radiation protection, recovery monitor | perlu izin, SDM, consumable, maintenance |
| ICU | ventilator, patient monitor, central monitor, syringe/infusion pump | gas medik dan UPS wajib andal |
| ICCU | monitor jantung, defibrilator, telemetry bila tersedia | integrasi dengan Cathlab dan poli jantung |
| HCU | monitor intermediate, oxygen outlet, suction, nurse call | pasien transisi dan step-down care |
| Diagnostik cepat | lab point-of-care, radiologi cepat, echo | mempercepat keputusan klinis |
| RME/SIMRS | order, hasil penunjang, e-prescribing, klaim, dashboard | mengurangi duplikasi dan memperbaiki kontrol mutu |

Teknologi digital menjadi faktor pembeda dalam operasional CMU. RME harus mampu mencatat perjalanan pasien dari IGD sampai rawat inap, tindakan, discharge, kontrol, dan rujukan balik. Dashboard manajemen perlu memantau BOR, ketersediaan TT, waktu tunggu, response time IGD, utilisasi ICU/ICCU, utilisasi Cathlab, klaim JKN, dan indikator keselamatan pasien. Data tersebut dibutuhkan untuk pengambilan keputusan cepat dan evaluasi kelayakan operasional.

7.2 Organisasi dan Manajemen

Pengembangan CMU membutuhkan tata kelola organisasi yang jelas karena layanan yang terintegrasi melibatkan banyak unit: IGD, rawat jalan, rawat inap, ICU, ICCU, HCU, kamar operasi/tindakan, radiologi, laboratorium, farmasi, rekam medis, IPSRS, keuangan, BPJS center, dan manajemen mutu. Tanpa tata kelola lintas unit, gedung terintegrasi dapat kembali bekerja secara sektoral dan tidak menghasilkan perbaikan waktu layanan.

Organisasi CMU disarankan menggunakan model koordinasi layanan akut dan jantung di bawah manajemen RSUD, dengan penanggung jawab klinis, penanggung jawab operasional, koordinator keperawatan, koordinator penunjang, case manager, serta dukungan mutu dan keselamatan pasien. Clinical governance harus memastikan bahwa setiap layanan memiliki SOP, clinical pathway, kewenangan klinis, audit medis, audit keperawatan, dan indikator mutu.

Tabel 7.6 Rancangan Fungsi Organisasi CMU

| Fungsi | Peran Utama | Penanggung Jawab yang Disarankan |
|---|---|---|
| Pengarah strategis | menetapkan arah layanan, anggaran, KPI | direktur/manajemen RSUD |
| Koordinasi klinis | mengatur clinical pathway dan mutu klinis | komite medis/koordinator layanan |
| Operasional harian | mengelola jadwal, alur, kapasitas, logistik | manajer/koordinator CMU |
| Keperawatan | mengatur shift, kompetensi, supervisi, patient safety | kepala/koordinator keperawatan |
| Penunjang medik | memastikan lab, radiologi, farmasi responsif | koordinator penunjang medik |
| Bed management | memantau TT, ICU/ICCU/HCU, rujukan | case manager/admisi |
| Digital dan data | dashboard, RME, integrasi BPJS/SISRUTE | SIMRS/rekam medis |
| Mutu dan risiko | audit indikator, insiden, komplain, RCA | PMKP/manajemen risiko |

Manajemen layanan CMU perlu menetapkan indikator kinerja utama sejak awal. Indikator tersebut bukan hanya indikator volume pasien, tetapi juga indikator mutu, keselamatan, efisiensi, dan finansial. Untuk layanan jantung, indikator seperti door-to-ECG, waktu konsultasi Sp.JP, utilisasi Cathlab, komplikasi tindakan, readmission, dan rujukan keluar perlu dipantau. Untuk IGD dan acute care, indikator response time, waktu tunggu, length of stay observasi, dan kepadatan IGD menjadi penting.

Tabel 7.7 Indikator Kinerja Utama CMU

| Dimensi | Indikator Awal | Tujuan Pemantauan |
|---|---|---|
| Akses | response time IGD, waktu tunggu triase, waktu tunggu diagnostik | memastikan pelayanan cepat |
| Mutu klinis | door-to-ECG, kepatuhan clinical pathway, komplikasi | meningkatkan outcome pasien |
| Kapasitas | BOR, ALOS, TOI, utilisasi ICU/ICCU/HCU | menjaga efisiensi tempat tidur |
| Keselamatan | insiden keselamatan pasien, infeksi, medication error | mengurangi risiko layanan |
| Operasional | ketersediaan alat kritikal, downtime alkes, ketersediaan obat | menjaga kontinuitas layanan |
| Digital | kelengkapan RME, kecepatan billing/klaim, dashboard aktif | memperbaiki data dan administrasi |
| Finansial | pendapatan layanan, klaim JKN, biaya consumable, maintenance | menjaga keberlanjutan BLUD |
| Kepuasan | komplain, kepuasan pasien/keluarga, kepuasan staf | memperbaiki pengalaman layanan |

Kebutuhan SDM harus disusun berdasarkan beban kerja dan kompleksitas layanan. CMU membutuhkan dokter umum emergensi, dokter spesialis terkait, dokter Sp.JP, perawat IGD, perawat ICU/ICCU, analis laboratorium, radiografer, farmasis, perekam medis, tenaga administrasi, teknisi elektromedis, teknisi MEP, petugas kebersihan, keamanan, dan petugas transport internal. Seluruh SDM harus mendapatkan pelatihan sesuai area layanan, termasuk BHD/BTCLS/ACLS sesuai kebutuhan, PPI, penggunaan alat kritikal, keselamatan kebakaran, dan RME.

Tabel 7.8 Kebutuhan Penguatan SDM dan Kompetensi CMU

| Kelompok SDM | Kompetensi Prioritas | Catatan Pengembangan |
|---|---|---|
| Dokter IGD | triase, resusitasi, emergency cardiac care | jadwal 24 jam dan supervisi spesialis |
| Dokter Sp.JP | layanan jantung, echo, Cathlab sesuai kewenangan | perlu jejaring pengampu dan credentialing |
| Perawat IGD | triase, resusitasi, observasi akut | pelatihan BTCLS/ACLS sesuai kebutuhan |
| Perawat ICU/ICCU | ventilator, monitor, obat vasoaktif, cardiac care | rasio dan kompetensi harus memadai |
| Penunjang medik | respon cepat lab/radiologi/farmasi | SLA layanan penunjang perlu ditetapkan |
| Rekam medis/SIMRS | RME, coding, klaim, dashboard | mendukung data real time dan klaim akurat |
| Elektromedis/IPSRS | maintenance alat, UPS, gas medik, HVAC | kesiapan alat kritikal 24 jam |
| Manajemen mutu | audit KPI, insiden, RCA, risiko | memastikan continuous improvement |

Kesimpulan awal BAB 7 adalah bahwa kebutuhan pelayanan CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah layak dan relevan untuk dikembangkan sebagai layanan terintegrasi yang berfokus pada emergency and acute care, layanan unggulan jantung, ICU/ICCU/HCU, rawat inap KRIS, diagnostik cepat, dan digital workflow. Namun, keputusan kapasitas final, daftar alat kesehatan, jumlah tempat tidur, dan kebutuhan SDM harus dilengkapi melalui data primer rumah sakit, survei teknis, master plan, DED, RAB, serta business plan operasional layanan.
"""

body_anchor = s.find("RINGKASAN EKSEKUTIF", s.find("RINGKASAN EKSEKUTIF") + 1)
start = s.find("BAB 7 ANALISIS KEBUTUHAN PELAYANAN RUMAH SAKIT", body_anchor)
end = s.find("BAB 8 MASTER PROGRAM", start)
if start == -1 or end == -1:
    raise SystemExit("Could not find BAB 7 body range")
s = s[:start] + bab7 + "\n\n" + s[end:]

old_toc = """BAB 7 ANALISIS KEBUTUHAN PELAYANAN RUMAH SAKIT
7.1 Konsep Layanan CMU
7.2 Emergency and Acute Care
7.3 Layanan Unggulan Jantung
7.4 Teknologi Medis
7.5 Organisasi dan Manajemen Layanan"""
new_toc = """BAB 7 ANALISIS KEBUTUHAN PELAYANAN RUMAH SAKIT
7.1 Analisis Pelayanan dan Teknologi
7.1.1 Pelayanan
7.1.1.1 Jenis Pelayanan
7.1.1.2 Kapasitas Rawat Inap
7.1.1.3 Layanan Unggulan
7.1.2 Teknologi Medis
7.2 Organisasi dan Manajemen"""
if old_toc in s:
    s = s.replace(old_toc, new_toc, 1)

# Tambahkan daftar tabel Bab 7 jika belum ada.
insert_after = "Tabel 4.1 Layanan Prioritas CMU dan Dasar Kebutuhan\n"
addition = """Tabel 7.1 Rantai Pelayanan CMU
Tabel 7.2 Jenis Pelayanan Prioritas CMU
Tabel 7.3 Kerangka Kapasitas Rawat CMU
Tabel 7.4 Kriteria Layanan Unggulan Jantung CMU
Tabel 7.5 Kebutuhan Teknologi Medis Prioritas CMU
Tabel 7.6 Rancangan Fungsi Organisasi CMU
Tabel 7.7 Indikator Kinerja Utama CMU
Tabel 7.8 Kebutuhan Penguatan SDM dan Kompetensi CMU
"""
if insert_after in s and "Tabel 7.1 Rantai Pelayanan CMU" not in s[:body_anchor]:
    s = s.replace(insert_after, insert_after + addition, 1)

p.write_text(s)
print("BAB 7 updated")
