from pathlib import Path

p = Path("dokumen/Laporan_FS_CMU_GoogleDocs_Rapih.md")
s = p.read_text()

bab4 = r"""BAB 4 ANALISIS PERMINTAAN

4.1 Analisis Demand dan Kebutuhan Tempat Tidur

Analisis demand pengembangan Central Medical Unit (CMU) RSUD KH Ahmad Hanafiah - Sukadana disusun untuk mengetahui peluang pertumbuhan jumlah pasien dan kebutuhan kapasitas layanan dalam beberapa tahun ke depan. Analisis ini tidak hanya melihat jumlah kunjungan pasien saat ini, tetapi juga mempertimbangkan kondisi geografis Kabupaten Lampung Timur, jumlah penduduk, angka kesakitan, pola penyakit tidak menular, kebutuhan layanan jantung, potensi rujukan, kesiapan layanan eksisting, serta arah kebijakan nasional dalam penguatan layanan rujukan KJSU-KIA.

Pasar potensial CMU secara geografis terutama adalah penduduk Kabupaten Lampung Timur dan wilayah sekitarnya yang selama ini membutuhkan akses layanan rujukan yang dekat, cepat, dan terintegrasi. Data Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dalam publikasi terkait penerimaan alat Cathlab menyebut jumlah penduduk Lampung Timur sekitar 1.150.000 jiwa. Dengan jumlah penduduk tersebut, RSUD KH Ahmad Hanafiah memiliki basis pasar layanan kesehatan yang besar, terutama karena rumah sakit ini merupakan rumah sakit pemerintah daerah yang berperan sebagai fasilitas rujukan utama di wilayah Lampung Timur.

Dari sisi kondisi kesehatan masyarakat, data BPS Provinsi Lampung tahun 2024 menunjukkan bahwa Lampung Timur memiliki persentase penduduk dengan keluhan kesehatan sebesar 26,09 persen dan angka kesakitan sebesar 10,06 persen. Artinya, sekitar seperempat penduduk mengalami keluhan kesehatan, dan sekitar sepersepuluh penduduk mengalami keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Angka ini menjadi dasar awal bahwa kebutuhan layanan kesehatan, termasuk layanan rujukan, gawat darurat, rawat jalan spesialistik, rawat inap, dan layanan penunjang, tetap signifikan.

Apabila angka kesakitan 10,06 persen diterapkan pada estimasi penduduk sekitar 1.150.000 jiwa, maka terdapat potensi sekitar 115.690 penduduk yang mengalami kondisi sakit dalam satu periode pengukuran. Angka ini bukan berarti seluruhnya menjadi pasien rumah sakit, tetapi menunjukkan basis kebutuhan layanan kesehatan yang perlu ditangkap melalui jejaring puskesmas, klinik, rumah sakit, dan sistem rujukan. Dengan pendekatan konservatif, sebagian demand akan tetap ditangani di layanan primer, sedangkan kasus yang membutuhkan diagnostik, spesialistik, tindakan, observasi akut, ICU/ICCU/HCU, dan rawat inap akan menjadi potensi demand RSUD.

Tabel 4.1 Dasar Awal Analisis Demand CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah

| Komponen | Data / Kondisi | Implikasi terhadap Demand CMU |
|---|---:|---|
| Penduduk Lampung Timur | ±1.150.000 jiwa | pasar potensial layanan RSUD dan rujukan daerah |
| Keluhan kesehatan Lampung Timur 2024 | 26,09% | menunjukkan kebutuhan layanan kesehatan yang tinggi |
| Angka kesakitan Lampung Timur 2024 | 10,06% | dasar proyeksi kebutuhan layanan rujukan dan rawat inap |
| Estimasi penduduk sakit | ±115.690 orang | potensi demand layanan kesehatan lanjutan |
| RSUD KH Ahmad Hanafiah | RS tipe C, lahan 58.184 m², bangunan 10.795,37 m² | memiliki basis kelembagaan dan fisik untuk pengembangan CMU |
| Poli jantung | 40-60 pasien/hari atau 600-800 pasien/bulan | demand khusus layanan jantung sudah terbukti |
| Cathlab | bantuan Kemenkes ±Rp17,5 miliar | perlu dukungan CMU, ICCU, diagnostik, dan SDM terlatih |
| Hipertensi Lampung Timur 2022 | estimasi 270.229 penderita | faktor risiko jantung dan stroke yang besar |
| Diabetes Melitus Lampung Timur 2022 | estimasi 13.062 penderita | faktor risiko komplikasi kardiovaskular dan rawat inap |

Sumber: BPS Provinsi Lampung, Satu Data Lampung/Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, situs resmi RSUD KH Ahmad Hanafiah, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, dan hasil sintesis penyusun.

Demand layanan jantung menjadi komponen paling kuat dalam pengembangan CMU. Pemerintah Kabupaten Lampung Timur menyebut data RSUD Sukadana/RSUD KH Ahmad Hanafiah menunjukkan poli jantung melayani sekitar 40-60 pasien per hari, atau sekitar 600-800 pasien per bulan. Dengan asumsi 600-800 pasien per bulan, maka kunjungan poli jantung dapat mencapai sekitar 7.200-9.600 pasien per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa layanan jantung bukan hanya kebutuhan prospektif, tetapi sudah menjadi layanan eksisting dengan volume yang signifikan.

Kebutuhan layanan jantung juga diperkuat oleh keberadaan alat Cathlab bantuan Kementerian Kesehatan dengan nilai sekitar Rp17,5 miliar. Cathlab memungkinkan pelayanan diagnostik dan intervensi penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti angiografi, kateterisasi, dan tindakan intervensi tertentu. Namun, keberadaan Cathlab memerlukan kesiapan sistem layanan yang lebih luas, meliputi emergency cardiac response, ruang tindakan, observasi akut, ICCU, ICU, laboratorium, radiologi, farmasi, steril, pemulihan, rehabilitasi, SDM dokter spesialis, perawat terlatih, perizinan radiasi, serta sistem rujukan dan kendali mutu.

Tabel 4.2 Estimasi Demand Awal Layanan Jantung

| Indikator | Nilai / Asumsi | Estimasi |
|---|---:|---:|
| Kunjungan poli jantung per hari | 40-60 pasien | 40-60 pasien/hari |
| Kunjungan poli jantung per bulan | data RSUD/Pemkab | 600-800 pasien/bulan |
| Kunjungan poli jantung per tahun | 12 bulan | 7.200-9.600 pasien/tahun |
| Estimasi penderita hipertensi | Satu Data Lampung 2022 | 270.229 orang |
| Hipertensi mendapat pelayanan | Satu Data Lampung 2022 | 173.364 orang |
| Estimasi penderita DM | Satu Data Lampung 2022 | 13.062 orang |
| DM mendapat pelayanan sesuai standar | Satu Data Lampung 2022 | 10.764 orang |
| Dokter Sp.JP tersedia | situs RSUD | 2 dokter Sp.JP |
| Alat Cathlab | bantuan Kemenkes | ±Rp17,5 miliar |

Penyakit hipertensi dan diabetes melitus merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Data Satu Data Lampung tahun 2022 menunjukkan estimasi penderita hipertensi usia 15 tahun ke atas di Lampung Timur sebesar 270.229 orang, dengan 173.364 orang mendapat pelayanan kesehatan atau sekitar 64,15 persen. Pada tahun yang sama, estimasi penderita diabetes melitus di Lampung Timur sebesar 13.062 orang, dengan 10.764 orang mendapat pelayanan sesuai standar atau sekitar 82,40 persen. Besarnya populasi risiko ini memperkuat kebutuhan layanan jantung, penyakit dalam, saraf/stroke, ICU/ICCU, diagnostik, dan rawat inap.

Dari sisi kebijakan nasional, pengembangan demand CMU selaras dengan program Strengthening Indonesia's Healthcare Referral Network (SIHREN) dan penguatan jejaring layanan KJSU-KIA. Kementerian Kesehatan menargetkan penguatan layanan rujukan KJSU-KIA pada rumah sakit jejaring di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota sampai tahun 2027. Target minimal setiap kabupaten/kota memiliki rumah sakit tingkat madya untuk layanan prioritas memperkuat urgensi RSUD KH Ahmad Hanafiah mengembangkan layanan jantung dan acute care secara terintegrasi.

Analisis kebutuhan tempat tidur pada tahap awal masih bersifat indikatif karena data primer RSUD seperti BOR, ALOS, TOI, BTO, NDR, GDR, jumlah tempat tidur eksisting, distribusi tempat tidur per kelas, kunjungan IGD, rawat inap, ICU, rujukan masuk, rujukan keluar, dan 10 besar penyakit belum tersedia lengkap. Oleh karena itu, kebutuhan tempat tidur CMU sebaiknya dihitung kembali pada tahap FS final menggunakan data pelayanan minimal 3-5 tahun.

Walaupun demikian, berdasarkan konsep CMU dari bahan presentasi internal, bangunan direncanakan 4 lantai dengan luas total sekitar 4.800 m² dan luas efektif sekitar 1.200 m² per lantai. Fungsi layanan diarahkan pada IGD modern, diagnostik cepat, ruang tindakan/OK emergensi, ICU/ICCU/HCU, dan rawat inap KRIS. Dengan konsep tersebut, kebutuhan tempat tidur harus dibagi berdasarkan fungsi acute care, critical care, dan rawat inap standar.

Tabel 4.3 Kerangka Kebutuhan Tempat Tidur CMU

| Area Layanan | Dasar Demand | Kebutuhan yang Perlu Dihitung |
|---|---|---|
| Observasi IGD / acute observation | kunjungan IGD, kasus akut, lama observasi | bed observasi, triase, resusitasi, isolasi awal |
| ICU | kasus kritikal, sepsis, pasca tindakan, gagal napas | TT ICU, ventilator, nurse station, ruang isolasi |
| ICCU | demand jantung, Cathlab, ACS, aritmia, pasca intervensi | TT ICCU, monitor jantung, crash cart, gas medik |
| HCU | pasien transisi dari ICU/ICCU ke rawat inap | TT HCU dan monitoring intermediate |
| Rawat inap KRIS | kebutuhan rawat inap standar, JKN/BPJS | TT KRIS sesuai 12 kriteria KRIS |
| Recovery / pemulihan tindakan | Cathlab, OK emergensi, tindakan akut | bed pemulihan dan monitoring pasca tindakan |

Formula perhitungan kebutuhan tempat tidur pada tahap final dapat menggunakan pendekatan jumlah hari rawat, ALOS, BOR target, dan proyeksi pertumbuhan demand. Secara umum, kebutuhan tempat tidur dapat dihitung dari proyeksi pasien rawat inap dikalikan rata-rata lama rawat, kemudian dibagi 365 hari dan target BOR. Untuk layanan ICU/ICCU/HCU, perhitungan perlu mempertimbangkan clinical pathway, rata-rata lama rawat intensif, kebutuhan isolasi, turn over, serta standar SDM dan alat.

Rumus indikatif kebutuhan tempat tidur adalah sebagai berikut:

Kebutuhan TT = (Proyeksi pasien rawat inap x ALOS) / (365 x BOR target)

Untuk menghasilkan proyeksi yang dapat dipertanggungjawabkan, data primer berikut harus dilengkapi oleh RSUD: kunjungan IGD 3-5 tahun, kunjungan rawat jalan per poli, kunjungan poli jantung, jumlah pasien rawat inap, jumlah hari rawat, BOR, ALOS, TOI, BTO, NDR, GDR, pasien ICU/HCU, rujukan masuk dan keluar, 10 besar penyakit, data klaim BPJS/INA-CBGs, tarif, unit cost, serta rencana kapasitas tempat tidur eksisting dan pengembangan.

4.2 Analisis Pasar dan Pemasaran

Analisis pasar dan pemasaran dilakukan untuk melihat posisi CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah dalam sistem pelayanan kesehatan daerah, segmen pasien yang dilayani, peluang peningkatan volume layanan, dan strategi memperkuat pemanfaatan layanan. Analisis ini penting karena pengembangan gedung dan alat kesehatan modern harus diikuti dengan kesiapan demand, sistem rujukan, mutu layanan, SDM, digitalisasi, dan strategi komunikasi layanan kepada masyarakat.

Pasar utama CMU adalah masyarakat Kabupaten Lampung Timur, terutama pasien dengan kondisi gawat darurat, penyakit jantung, penyakit tidak menular, kebutuhan diagnostik cepat, kebutuhan ICU/ICCU/HCU, dan kebutuhan rawat inap standar. Pasar sekunder adalah pasien dari wilayah sekitar yang memiliki akses geografis lebih dekat ke RSUD KH Ahmad Hanafiah dibandingkan ke rumah sakit provinsi atau rumah sakit rujukan lain. Pasar tersier adalah pasien umum/non-JKN dan pasien layanan eksekutif yang dapat menjadi sumber diversifikasi pendapatan BLUD sepanjang tidak mengganggu kewajiban layanan publik dan JKN.

Dari sisi produk layanan, CMU diposisikan sebagai layanan terintegrasi cepat yang menghubungkan IGD, diagnostik, tindakan, perawatan intensif, dan rawat inap. Konsep ini berbeda dari pola layanan yang terfragmentasi karena pasien tidak perlu berpindah terlalu jauh antarunit untuk mendapatkan pemeriksaan, stabilisasi, tindakan, dan perawatan lanjutan. Semakin pendek alur layanan, semakin besar potensi peningkatan keselamatan pasien, kepuasan pasien, dan efisiensi operasional.

Tabel 4.4 Segmentasi Pasar CMU

| Segmen | Karakteristik | Kebutuhan Layanan | Strategi Layanan |
|---|---|---|---|
| Pasien JKN/BPJS | mayoritas pasien RSUD, rujukan berjenjang | layanan sesuai standar, cepat, aman, KRIS | integrasi BPJS, antrean digital, kepatuhan clinical pathway |
| Pasien gawat darurat | kasus akut, trauma, kegawatdaruratan jantung/stroke | triase cepat, resusitasi, diagnostik, ICU | IGD modern, response time, emergency cardiac response |
| Pasien jantung | poli jantung 600-800 pasien/bulan, risiko hipertensi/DM | echo, Cathlab, ICCU, rehab jantung | klinik jantung terpadu, paket layanan, jejaring rujukan |
| Pasien penyakit tidak menular | hipertensi, DM, stroke, komplikasi | monitoring, diagnostik, rawat inap, edukasi | integrasi poli, screening risiko, follow-up digital |
| Pasien rawat inap standar | pasien JKN dan umum | ruang rawat sesuai KRIS | desain KRIS, outlet oksigen, aksesibilitas, mutu rawat |
| Pasien umum/non-JKN | membayar mandiri/asuransi | layanan cepat dan nyaman | transparansi tarif, layanan eksekutif terbatas, mutu layanan |
| Jejaring FKTP/Puskesmas | pengirim rujukan awal | kepastian alur dan feedback rujukan | koordinasi rujukan, SISRUTE, hotline, edukasi rujukan |

Kebijakan KRIS juga menjadi faktor penting dalam pemasaran layanan rawat inap. Perpres 59 Tahun 2024 mengatur Kelas Rawat Inap Standar sebagai standar minimum pelayanan rawat inap peserta JKN/BPJS. Dengan demikian, pengembangan rawat inap CMU perlu dipromosikan bukan sebagai peningkatan kelas semata, tetapi sebagai peningkatan mutu, keselamatan, aksesibilitas, dan kesetaraan layanan rawat inap.

Di sisi lain, pemasaran layanan jantung harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis mutu. Keberadaan Cathlab dan dokter spesialis jantung akan meningkatkan ekspektasi masyarakat terhadap kemampuan RSUD. Karena itu, pemasaran layanan perlu diikuti kesiapan SOP, perizinan Bapeten, perawat terlatih, sistem emergency response, perawatan pascatindakan, ICCU, farmasi, laboratorium, radiologi, serta jejaring rujukan ke rumah sakit pengampu untuk kasus yang belum dapat ditangani.

4.2.1 Analisis STP

Analisis STP terdiri dari segmenting, targeting, dan positioning. Segmenting dilakukan untuk mengelompokkan pasar berdasarkan kebutuhan klinis, cara bayar, wilayah, dan tingkat kegawatan. Targeting dilakukan untuk menentukan segmen prioritas yang akan menjadi fokus layanan CMU. Positioning dilakukan untuk menetapkan citra layanan CMU di mata masyarakat dan jejaring rujukan.

Tabel 4.5 Analisis STP CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah

| Komponen | Uraian |
|---|---|
| Segmenting geografis | penduduk Lampung Timur dan wilayah sekitar yang membutuhkan layanan rujukan dekat |
| Segmenting klinis | pasien jantung, IGD, stroke, hipertensi, diabetes, pasien kritikal, pasien rawat inap KRIS |
| Segmenting cara bayar | JKN/BPJS, pasien umum, asuransi lain, layanan eksekutif/non-JKN terbatas |
| Target utama | pasien JKN/BPJS dan pasien rujukan daerah dengan kebutuhan layanan akut dan jantung |
| Target prioritas klinis | emergency cardiac, pasien pasca Cathlab, pasien ICU/ICCU/HCU, rawat inap KRIS |
| Target institusional | puskesmas, klinik, dokter praktik, jejaring RS, BPJS, Dinas Kesehatan |
| Positioning | CMU sebagai pusat layanan cepat, terintegrasi, modern, unggul jantung, dan berorientasi keselamatan pasien |

Segmentasi geografis menunjukkan bahwa Lampung Timur membutuhkan layanan rujukan yang dekat karena wilayah yang luas dan karakter ekonomi agraris. Bagi masyarakat, jarak rujukan yang jauh dapat menimbulkan biaya transportasi, kehilangan waktu produktif, dan risiko keterlambatan penanganan. CMU harus diposisikan sebagai solusi daerah untuk memperpendek rantai rujukan dan mempercepat penanganan kasus akut.

Segmentasi klinis menunjukkan bahwa layanan jantung menjadi segmen unggulan, tetapi tidak berdiri sendiri. Pasien jantung sering berkaitan dengan hipertensi, diabetes, gagal ginjal, stroke, dan kondisi kritikal lainnya. Karena itu, CMU harus membangun layanan berbasis alur pasien, bukan hanya berbasis unit. Alur layanan harus menghubungkan triase, pemeriksaan dokter, EKG, laboratorium, radiologi, tindakan, Cathlab, ICCU, ICU, rawat inap, rehabilitasi, dan kontrol rawat jalan.

Target utama CMU tetap pasien JKN/BPJS karena RSUD merupakan rumah sakit pemerintah daerah dengan fungsi sosial. Namun, RSUD juga dapat mengembangkan layanan umum, asuransi, dan eksekutif secara proporsional untuk memperkuat pendapatan BLUD. Pengembangan segmen non-JKN harus dilakukan tanpa mengurangi akses dan mutu layanan pasien JKN.

Positioning CMU adalah sebagai pusat layanan terintegrasi yang cepat, modern, dan unggul dalam layanan jantung. Positioning ini sesuai dengan visi 2026-2030 RSUD KH Ahmad Hanafiah dalam bahan presentasi internal, yaitu menjadi rumah sakit rujukan regional yang modern, terintegrasi, unggul dalam pelayanan jantung, berbasis digital, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

4.2.2 Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran CMU harus diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, memperkuat jejaring rujukan, meningkatkan utilisasi layanan prioritas, dan menjaga keberlanjutan finansial BLUD. Strategi pemasaran tidak cukup hanya berupa promosi, tetapi harus mencakup penataan alur layanan, jaminan mutu, komunikasi publik, kerja sama jejaring, digitalisasi, dan penguatan pengalaman pasien.

Tabel 4.6 Strategi Pemasaran dan Penguatan Demand CMU

| Strategi | Bentuk Kegiatan | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Penguatan jejaring rujukan | koordinasi puskesmas, klinik, BPJS, Dinkes, SISRUTE | rujukan lebih tepat, cepat, dan terdokumentasi |
| Branding layanan jantung | edukasi Cathlab, poli jantung, emergency cardiac response | peningkatan kepercayaan dan utilisasi layanan jantung |
| Integrasi layanan digital | antrean, SIMRS/RME, dashboard, bridging BPJS | alur pasien lebih cepat dan data demand lebih akurat |
| Edukasi PTM | skrining hipertensi, diabetes, risiko jantung | deteksi dini dan rujukan tepat waktu |
| Layanan pasien JKN | kepastian alur, KRIS, transparansi waktu layanan | peningkatan kepuasan dan kepatuhan standar |
| Layanan non-JKN/eksekutif | paket layanan proporsional, transparansi tarif | diversifikasi pendapatan BLUD |
| Mutu dan keselamatan pasien | KPI response time, clinical pathway, audit layanan | outcome klinis lebih baik dan risiko komplain menurun |
| Komunikasi publik | website, media sosial, materi edukasi, call center | masyarakat memahami layanan CMU dan cara aksesnya |

Untuk layanan jantung, strategi utama adalah membangun clinical pathway yang jelas mulai dari IGD, poli jantung, diagnostik, Cathlab, ICCU, ICU, rawat inap, sampai rehabilitasi. Informasi kepada masyarakat harus menjelaskan kemampuan layanan, jadwal dokter, syarat rujukan, alur BPJS, estimasi waktu layanan, dan jenis kasus yang dapat ditangani. Hal ini penting agar peningkatan demand tidak menimbulkan overload atau ekspektasi yang tidak sesuai kapasitas.

Untuk layanan IGD dan acute care, strategi pemasaran harus lebih menekankan kesiapan pelayanan cepat dan keselamatan pasien, bukan promosi komersial. Indikator seperti response time triase, ketersediaan dokter, akses laboratorium/radiologi cepat, kesiapan ICU/ICCU, dan sistem rujukan balik perlu dipantau. Data ini dapat menjadi materi komunikasi kinerja kepada manajemen dan pemangku kepentingan.

Untuk rawat inap KRIS, strategi pemasaran harus diarahkan pada kepatuhan standar dan peningkatan mutu. Rawat inap CMU harus memperhatikan ventilasi, pencahayaan, tempat tidur, nakas, temperatur ruangan, pemisahan pasien, kepadatan ruang, partisi, kamar mandi dalam, aksesibilitas, dan outlet oksigen. Pemenuhan kriteria KRIS akan memperkuat posisi RSUD sebagai rumah sakit pemerintah yang memberi pelayanan setara, aman, dan bermutu.

Pemasaran juga harus didukung dengan manajemen data. Setiap kunjungan poli jantung, IGD, ICU/ICCU, rawat inap, rujukan, tindakan Cathlab, laboratorium, radiologi, dan klaim BPJS perlu dicatat dalam SIMRS/RME dan diolah menjadi dashboard demand. Dashboard ini akan membantu manajemen menilai tren kunjungan, kapasitas layanan, kebutuhan SDM, kebutuhan alat, pendapatan, biaya, dan risiko overload.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, pengembangan CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah memiliki dasar demand yang kuat, terutama pada layanan jantung, acute care, ICU/ICCU/HCU, dan rawat inap KRIS. Namun, kelayakan final tetap memerlukan verifikasi data primer RSUD, terutama data kunjungan 3-5 tahun, data rujukan, BOR, ALOS, TOI, BTO, NDR, GDR, kapasitas tempat tidur, klaim BPJS, unit cost, dan proyeksi kebutuhan SDM serta alat kesehatan.
"""

# Replace main body BAB 4 after Ringkasan Eksekutif.
body_anchor = s.find("RINGKASAN EKSEKUTIF")
start = s.find("BAB 4 ANALISIS PERMINTAAN", body_anchor)
end = s.find("BAB 5 ANALISIS LOKASI", start)
if start == -1 or end == -1:
    raise SystemExit("Could not find BAB 4 body range")
s = s[:start] + bab4 + "\n\n" + s[end:]

# Update DAFTAR ISI BAB 4 subsection list.
old = """BAB 4 ANALISIS PERMINTAAN
4.1 Dasar Analisis Demand
4.2 Analisis Kebutuhan Layanan Jantung
4.3 Analisis Kebutuhan IGD dan Layanan Akut
4.4 Analisis ICU/ICCU/HCU
4.5 Analisis Rawat Inap KRIS
4.6 Analisis Pasar dan Pemasaran"""
new = """BAB 4 ANALISIS PERMINTAAN
4.1 Analisis Demand dan Kebutuhan Tempat Tidur
4.2 Analisis Pasar dan Pemasaran
4.2.1 Analisis STP
4.2.2 Strategi Pemasaran"""
s = s.replace(old, new, 1)

p.write_text(s)
print("BAB 4 updated")
