Laporan Studi Kelayakan CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah - Sukadana

BAB 2
Gambaran Umum dan Analisis Situasi Eksternal

2.1 Regulasi dan Kebijakan Nasional

Pengembangan Central Medical Unit (CMU) perlu ditempatkan dalam arah kebijakan nasional bidang kesehatan, khususnya transformasi layanan rujukan, penguatan layanan prioritas, integrasi sistem rujukan, pemenuhan standar bangunan dan prasarana rumah sakit, keselamatan pasien, serta penguatan layanan JKN/BPJS. CMU diarahkan bukan hanya sebagai pembangunan fisik, tetapi sebagai pusat layanan terintegrasi yang memperbaiki alur pasien, mempercepat respons kegawatdaruratan, dan meningkatkan kemampuan RSUD dalam menangani kasus akut serta penyakit tidak menular prioritas.

Dalam konteks Kabupaten Lampung Timur, kebijakan tersebut relevan karena rumah sakit daerah memegang fungsi sosial dan fungsi rujukan. Peningkatan kapasitas RSUD membantu mengurangi rujukan keluar daerah, menekan biaya tidak langsung pasien, dan memperkuat pemerataan akses layanan kesehatan spesialistik.

2.2 Gambaran Umum Kabupaten Lampung Timur

Kabupaten Lampung Timur merupakan wilayah dengan basis ekonomi agraris, sebaran penduduk yang luas, dan kebutuhan akses pelayanan kesehatan yang cepat serta dekat. Kondisi geografis dan karakter ekonomi daerah menjadikan RSUD KH Ahmad Hanafiah - Sukadana sebagai simpul penting pelayanan rujukan kabupaten. Peningkatan layanan terintegrasi melalui CMU diharapkan memperkuat peran RSUD sebagai rumah sakit rujukan regional modern.

Implikasi untuk CMU: layanan IGD modern, ICU/ICCU, radiologi/laboratorium cepat, dan layanan jantung terpadu menjadi penting untuk mengurangi keterlambatan penanganan pasien dan menekan kebutuhan rujukan keluar daerah.

2.3 Kondisi Sosial Ekonomi Wilayah

Data makro ekonomi menunjukkan adanya pemulihan dan penguatan ekonomi Lampung Timur setelah periode kontraksi. Peningkatan PDRB per kapita, penurunan kemiskinan, serta pertumbuhan ekonomi tanpa migas menjadi indikator bahwa permintaan terhadap layanan kesehatan yang lebih bermutu akan terus meningkat. Namun, fungsi sosial RSUD tetap harus dijaga karena sebagian masyarakat masih berada pada kelompok rentan dan bergantung pada skema JKN/BPJS.

PDRB ADHB Kabupaten Lampung Timur Tahun 2025 Sumber: database/rekap tahunan indikator makro. 2020-2025.xlsx dan database/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-lampung-timur-menurut-lapangan-usaha-2021-2025.pdf.

2.4 Indikator Makro Ekonomi 2020-2025

Tabel 2.1 Indikator Makro Ekonomi Kabupaten Lampung Timur Tahun 2020-2025

Indikator202020212022202320242025
Laju Pertumbuhan Ekonomi (Persen) - Dengan Migas-2,260,242,023,514,624,65
Laju Pertumbuhan Ekonomi (Persen) - Tanpa Migas-0,331,795,134,744,967,25
PDRB Per Kapita Kabupaten Lampung Timur (Juta Rupiah) - Dengan Migas36,7139,1443,9546,2849,2752,31
PDRB Per Kapita Kabupaten Lampung Timur (Juta Rupiah) - Tanpa Migas29,9030,3833,0236,4639,2443,31
Gini Ratio0,3150,2840,2830,3150,2780,261
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)2,643,053,303,093,023,18
Persentase Penduduk Miskin14,6215,0813,9813,8013,1912,15
Ketahanan Pangan (Skor Pola Pangan Harapan)85,689,591,591,389,890,12
Peningkatan Investasi Daerah (%)-98,39211,97-75,12935,19-16,2723,26

Berdasarkan tabel di atas, ekonomi Lampung Timur menunjukkan penguatan. Pertumbuhan ekonomi tanpa migas tahun 2025 mencapai 7,25 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan dengan migas sebesar 4,65 persen. PDRB per kapita juga meningkat dari tahun ke tahun, sementara persentase penduduk miskin turun menjadi 12,15 persen pada 2025. Pola ini memperkuat argumentasi bahwa peningkatan layanan kesehatan daerah perlu dilakukan secara bertahap, terukur, dan tetap memperhatikan keterjangkauan masyarakat.

2.5 Gambaran Umum Kesehatan

Kebutuhan layanan kesehatan wilayah dipengaruhi oleh beban penyakit menular, penyakit tidak menular, kecelakaan, kasus maternal, dan kebutuhan layanan rujukan. Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker menjadi faktor penting dalam perencanaan CMU. Karena itu, penguatan layanan jantung, kegawatdaruratan, ICU/ICCU, diagnostik cepat, dan rehabilitasi medik perlu menjadi prioritas desain layanan.

Dokumen strategi RSUD menempatkan layanan jantung sebagai layanan unggulan. Hal ini selaras dengan peluang eksternal berupa tingginya prevalensi penyakit kardiovaskular dan kebutuhan layanan jantung regional.

2.6 Sistem Rujukan dan Jejaring Fasilitas Kesehatan

CMU diharapkan memperkuat posisi RSUD KH Ahmad Hanafiah dalam sistem rujukan regional. Integrasi IGD, diagnostik cepat, ICU/ICCU, OK emergensi, rawat inap KRIS, farmasi satelit, radiologi, laboratorium, dan sistem informasi rumah sakit akan memperbaiki koordinasi layanan dari pasien masuk sampai pasien dirawat atau dirujuk.

Dengan konsep one stop service, CMU dapat mengurangi waktu tunggu, mengurangi perpindahan pasien yang tidak perlu, serta memperjelas alur komando klinis pada kasus gawat darurat.

2.7 Analisis Situasi Eksternal

Peluang dan Faktor Pendorong

Kekuatan Internal yang Mendukung Respons Eksternal

Ancaman dan Risiko Eksternal

Secara keseluruhan, peluang eksternal lebih kuat apabila RSUD mampu memperkuat kesiapan SDM, alat kesehatan, pembiayaan operasional, tata kelola BLUD, dan digitalisasi. Tantangan utama pengembangan CMU berada pada biaya investasi, keberlanjutan pemeliharaan alat, ketergantungan tarif JKN, dan ketersediaan tenaga spesialis.

2.8 Kesimpulan BAB 2

Analisis eksternal menunjukkan bahwa pengembangan CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah memiliki dasar kebutuhan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi daerah, penurunan kemiskinan, kebutuhan layanan rujukan, tren penyakit tidak menular, dan arah transformasi layanan kesehatan nasional mendukung pengembangan layanan terintegrasi. CMU perlu dirancang sebagai pusat layanan akut dan rujukan yang modern, efisien, aman, serta berkelanjutan secara operasional.

Rujukan Data Folder Database