# Draft Laporan Studi Kelayakan Pengembangan Central Medical Unit (CMU)

**RSUD KH Ahmad Hanafiah - Sukadana, Kabupaten Lampung Timur**

Dokumen ini adalah draft awal laporan studi kelayakan pengembangan **Central Medical Unit (CMU) / Gedung Layanan Terintegrasi** RSUD KH Ahmad Hanafiah. Struktur laporan diperkuat dengan acuan format `Laporan FS RSU Sofifi 10112020.pdf`, data internal awal dari `SWOT dan CMU RSUD KH AHMAD HANAFIAH-SUKADANA.pptx`, data ekonomi dari `rekap tahunan indikator makro. 2020-2025.xlsx`, serta sumber eksternal yang diverifikasi melalui Exa MCP.

> Catatan: draft ini belum menggantikan kebutuhan survei primer, data teknis lahan, data operasional RSUD, RAB rinci, DED, dan analisis finansial mendalam.

---

## Ringkasan Eksekutif

Pengembangan CMU RSUD KH Ahmad Hanafiah dinilai layak untuk dilanjutkan ke tahap studi teknis dan finansial rinci karena selaras dengan empat dasar utama:

1. **Arah strategis rumah sakit**: RSUD diarahkan menjadi rumah sakit rujukan regional modern, terintegrasi, unggul dalam pelayanan jantung, berbasis digital, dan berorientasi keselamatan pasien.
2. **Kebutuhan layanan rujukan**: Pemerintah pusat mendorong penguatan jejaring layanan rujukan KJSU-KIA melalui SIHREN dengan target pemerataan layanan madya di seluruh kabupaten/kota pada 2027.
3. **Kondisi sosial ekonomi wilayah**: indikator makro Lampung Timur menunjukkan pemulihan ekonomi, peningkatan PDRB per kapita, penurunan kemiskinan, dan peningkatan kapasitas ekonomi daerah.
4. **Kebutuhan modernisasi layanan RSUD**: integrasi IGD, diagnostik, tindakan, ICU/ICCU, dan rawat inap KRIS diperlukan untuk mempercepat alur pasien, mengurangi fragmentasi layanan, dan memperkuat posisi RSUD sebagai rujukan regional.

Konsep awal CMU berupa bangunan 4 lantai dengan total luas ±4.800 m², luas efektif per lantai ±1.200 m², dan dimensi tapak ±42,5 m × 28,2 m. Fungsi utama meliputi IGD modern, diagnostik cepat, OK emergensi/ruang tindakan, ICU/ICCU/HCU, dan rawat inap KRIS. Estimasi awal biaya konstruksi dan MEP berada pada kisaran **Rp57,6-72 miliar** untuk skenario struktur, arsitektur, dan MEP rumah sakit, belum termasuk alat kesehatan, interior, konsultan, perizinan, pajak, site development, cadangan risiko, dan eskalasi biaya.

---

## Sumber Data dan Metodologi

### Sumber data utama

| Kelompok | Sumber | Fungsi dalam analisis |
|---|---|---|
| Referensi format FS | `Laporan FS RSU Sofifi 10112020.pdf` | Struktur bab, kedalaman analisis, dan pola pembahasan kelayakan rumah sakit |
| Strategi RSUD/CMU | `SWOT dan CMU RSUD KH AHMAD HANAFIAH-SUKADANA.pptx` | Visi, misi, SWOT, arah strategis, konsep CMU, luas bangunan, dan estimasi biaya awal |
| Ekonomi wilayah | `rekap tahunan indikator makro. 2020-2025.xlsx` | Pertumbuhan ekonomi, PDRB per kapita, kemiskinan, TPT, Gini Ratio, NTP, ketahanan pangan, dan investasi |
| Data eksternal | Exa MCP web search/fetch | Validasi kebijakan nasional, SIHREN/KJSU-KIA, KRIS, dan konteks kesehatan wilayah |

### Acuan struktur dari FS RSU Sofifi

PDF referensi menggunakan struktur studi kelayakan yang mencakup:

1. Pendahuluan
2. Gambaran umum dan analisis situasi eksternal
3. Gambaran umum dan analisis situasi internal
4. Analisis permintaan
5. Analisis lokasi
6. Analisis lingkungan dan sosial
7. Analisis kebutuhan pelayanan rumah sakit
8. Master program
9. Program fungsi
10. Perencanaan arsitektur
11. Sistem utilitas MEP
12. Estimasi biaya dan pentahapan pembangunan
13. Analisis keuangan
14. Kesimpulan dan rekomendasi

Struktur draft CMU ini mengikuti pola tersebut, dengan penyesuaian fokus pada layanan terintegrasi, jantung, digitalisasi, dan KRIS.

### Metodologi penyusunan

1. **Studi dokumen**: membaca struktur FS Sofifi, PPT CMU, dan Excel indikator makro.
2. **Analisis eksternal**: menilai kondisi ekonomi wilayah, kebijakan nasional, jejaring rujukan, dan kebutuhan layanan prioritas.
3. **Analisis internal awal**: mengidentifikasi visi, misi, SWOT, arah strategis, dan konsep CMU dari PPT.
4. **Analisis kebutuhan**: menurunkan kebutuhan ruang, SDM, alkes, digitalisasi, dan pembiayaan dari konsep layanan.
5. **Gap data**: menyusun daftar data yang perlu dilengkapi untuk FS final.

---

## BAB 1 Pendahuluan

### 1.1 Latar belakang

RSUD KH Ahmad Hanafiah - Sukadana memiliki peran strategis sebagai rumah sakit pemerintah daerah yang diharapkan mampu menjadi pusat rujukan regional di Kabupaten Lampung Timur dan wilayah sekitarnya. Kebutuhan layanan kesehatan masyarakat berkembang menuju pelayanan yang cepat, aman, terintegrasi, berbasis digital, dan mampu menangani kasus prioritas seperti penyakit jantung, stroke, kegawatdaruratan, dan layanan kritikal.

Pengembangan CMU dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. CMU ditempatkan sebagai **Integrated Emergency & Acute Care Building** yang mengintegrasikan IGD, diagnostik cepat, tindakan emergensi, rawat intensif, dan rawat inap KRIS dalam satu alur pelayanan.

### 1.2 Maksud dan tujuan

Maksud penyusunan studi kelayakan adalah menyediakan dasar argumentasi teknis, layanan, ekonomi, dan strategis bagi pengembangan CMU.

Tujuannya:

- menilai kebutuhan pengembangan CMU;
- menyusun justifikasi penguatan layanan jantung dan layanan akut;
- menilai keterkaitan CMU dengan kebijakan rujukan nasional;
- menyusun kebutuhan awal ruang, alkes, SDM, digitalisasi, dan pembiayaan;
- menyusun rekomendasi tindak lanjut menuju master plan, DED, RAB, dan analisis finansial rinci.

### 1.3 Ruang lingkup

Ruang lingkup kajian meliputi:

1. analisis regulasi dan kebijakan kesehatan;
2. analisis kondisi eksternal Lampung Timur;
3. analisis internal awal RSUD;
4. analisis SWOT;
5. analisis permintaan layanan;
6. konsep layanan dan bangunan CMU;
7. kebutuhan ruang dan program fungsi;
8. kebutuhan SDM, alkes, MEP, dan digitalisasi;
9. estimasi biaya awal;
10. risiko, mitigasi, roadmap, dan rekomendasi.

---

## BAB 2 Gambaran Umum dan Analisis Situasi Eksternal

### 2.1 Kebijakan nasional layanan rujukan

Kementerian Kesehatan mendorong transformasi layanan rujukan melalui penguatan jejaring **Kanker, Jantung, Stroke, Uronefrologi, dan KIA (KJSU-KIA)**. Berdasarkan informasi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan/Kesehatan Lanjutan, program SIHREN diarahkan untuk memperkuat layanan rujukan secara fisik dan kapasitas layanan melalui pemenuhan alat kesehatan, SDM, dan sarana prasarana. Program ini menyasar jejaring rumah sakit di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, dengan target minimal satu rumah sakit tingkat madya di setiap kabupaten/kota pada 2027.

Implikasi bagi RSUD KH Ahmad Hanafiah:

- pengembangan layanan jantung dan layanan akut selaras dengan prioritas nasional;
- CMU dapat menjadi platform fisik untuk memenuhi standar layanan rujukan madya;
- kebutuhan SDM, alkes, sarpras, dan maintenance harus disiapkan sejak tahap perencanaan;
- penggunaan alkes bantuan/strategis harus diikuti kesiapan operasional agar tidak menjadi aset idle.

### 2.2 Kebijakan KRIS dan rawat inap standar

Perpres Nomor 59 Tahun 2024 tentang Jaminan Kesehatan menjadi dasar penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Kemenkes menyampaikan bahwa KRIS mencakup 12 kriteria, antara lain komponen bangunan tidak berporositas tinggi, ventilasi, pencahayaan, kelengkapan tempat tidur, nakas, temperatur ruangan, pemisahan ruang berdasarkan jenis kelamin/usia/infeksi, kepadatan ruang dan kualitas tempat tidur, tirai/partisi, kamar mandi dalam ruangan, aksesibilitas kamar mandi, dan outlet oksigen.

Implikasi bagi CMU:

- lantai rawat inap perlu dirancang sesuai prinsip KRIS sejak awal;
- ruang intensif dikecualikan dari KRIS, tetapi tetap membutuhkan standar ICU/ICCU/HCU;
- konsep KRIS memperkuat kebutuhan desain rawat inap yang lebih bermutu, aman, dan setara;
- layanan eksekutif/non-JKN tetap dapat dikembangkan sebagai strategi diversifikasi BLUD, selama tidak mengganggu kewajiban layanan JKN.

### 2.3 Kondisi ekonomi Kabupaten Lampung Timur

Data Excel indikator makro 2020-2025 menunjukkan tren pemulihan dan penguatan ekonomi:

| Indikator | 2020 | 2021 | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 | Interpretasi |
|---|---:|---:|---:|---:|---:|---:|---|
| Pertumbuhan ekonomi dengan migas (%) | -2,26 | 0,24 | 2,02 | 3,51 | 4,62 | 4,65 | Pulih dari kontraksi 2020 dan stabil positif |
| Pertumbuhan ekonomi tanpa migas (%) | -0,33 | 1,79 | 5,13 | 4,74 | 4,96 | 7,25 | Aktivitas non-migas menguat signifikan |
| PDRB per kapita dengan migas (juta Rp) | 36,71 | 39,14 | 43,95 | 46,28 | 49,27 | 52,31 | Daya ekonomi per kapita meningkat |
| PDRB per kapita tanpa migas (juta Rp) | 29,90 | 30,38 | 33,02 | 36,46 | 39,24 | 43,31 | Basis ekonomi non-migas membaik |
| Gini Ratio | 0,315 | 0,284 | 0,283 | 0,315 | 0,278 | 0,261 | Ketimpangan relatif terkendali dan membaik pada 2025 |
| TPT (%) | 2,64 | 3,05 | 3,30 | 3,09 | 3,02 | 3,18 | Pengangguran relatif rendah tetapi perlu dicermati |
| NTP | - | 102,44 | 104,30 | 109,25 | 124,98 | 129,34 | Kesejahteraan petani membaik |
| Penduduk miskin (%) | 14,62 | 15,08 | 13,98 | 13,80 | 13,19 | 12,15 | Kemiskinan menurun bertahap |
| Skor Pola Pangan Harapan | 85,60 | 89,50 | 91,50 | 91,30 | 89,80 | 90,12 | Ketahanan pangan relatif baik |
| Peningkatan investasi daerah (%) | -98,39 | 211,97 | -75,12 | 935,19 | -16,27 | 23,26 | Fluktuatif, tetapi 2025 kembali positif |

Data PDRB harga berlaku 2025:

| Komponen | Nilai 2025 |
|---|---:|
| PDRB dengan migas | Rp60.936,45 miliar |
| PDRB tanpa migas | Rp50.443,33 miliar |

Interpretasi kelayakan:

- tren ekonomi positif memperkuat argumen peningkatan kebutuhan dan ekspektasi layanan kesehatan;
- penurunan kemiskinan mendukung ruang untuk peningkatan akses layanan, tetapi tarif dan strategi pembiayaan tetap harus menjaga keberpihakan sosial;
- penguatan NTP relevan karena Lampung Timur memiliki basis agraris, sehingga akses layanan rujukan yang dekat dapat mengurangi biaya tidak langsung pasien seperti transportasi dan kehilangan produktivitas.

### 2.4 Konteks kesehatan wilayah

Hasil penelusuran Exa menunjukkan adanya isu kesehatan Lampung Timur yang relevan dengan pengembangan CMU:

- BPS Provinsi Lampung mencatat pada 2024 Lampung Timur memiliki persentase keluhan kesehatan sekitar 26,09% dan angka kesakitan sekitar 10,06% pada tabel indikator morbiditas kabupaten/kota.
- Sumber Dinas Kesehatan Lampung Timur menyoroti penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker sebagai tantangan kesehatan masyarakat.
- Informasi pemerintah daerah menyebut RSUD Sukadana/RSUD KH Ahmad Hanafiah telah diarahkan pada penguatan layanan jantung, termasuk narasi kebutuhan layanan cath lab dan pasien poli jantung yang signifikan. Data ini perlu diverifikasi langsung ke RSUD sebelum masuk FS final.

Implikasi:

- layanan jantung terpadu menjadi justifikasi strategis;
- CMU perlu menggabungkan pelayanan akut dan preventif, termasuk skrining risiko jantung, hipertensi, diabetes, dan rehabilitasi;
- demand layanan harus dihitung dari data riil RSUD: 10 besar penyakit, kunjungan poli jantung, IGD, rujukan masuk/keluar, dan kasus kardiovaskular.

---

## BAB 3 Gambaran Umum dan Analisis Situasi Internal

### 3.1 Arah strategis RSUD

Berdasarkan PPT, visi 2026-2030 RSUD KH Ahmad Hanafiah adalah menjadi rumah sakit rujukan regional yang modern, terintegrasi, unggul dalam pelayanan jantung, berbasis digital, dan berorientasi keselamatan pasien melalui pengembangan CMU sebagai ikon layanan kesehatan Kabupaten Lampung Timur.

Misi utama meliputi pelayanan bermutu dan aman, pengembangan layanan jantung terpadu, pembangunan CMU, digitalisasi SIMRS/RME, penguatan SDM, tata kelola BLUD, serta jejaring rujukan.

### 3.2 Nilai organisasi CMU-CARE

Nilai organisasi yang diusulkan:

- **Collaborative**: integrasi lintas profesi;
- **Modern**: adaptif terhadap teknologi;
- **Unggul**: mutu dan kompetensi tinggi;
- **Cepat**: responsif dalam layanan;
- **Akurat**: tepat diagnosis dan tindakan;
- **Ramah**: pelayanan humanis;
- **Empati**: berorientasi pada keselamatan dan pengalaman pasien.

### 3.3 Data internal yang wajib dilengkapi

Agar FS setara dengan kedalaman FS Sofifi, RSUD perlu menyediakan:

| Kelompok data | Minimal data 3-5 tahun | Fungsi analisis |
|---|---|---|
| Profil RS | kelas RS, akreditasi, izin operasional, struktur organisasi | validasi posisi kelembagaan |
| Pelayanan | TT, BOR, ALOS, TOI, BTO, NDR, GDR, kunjungan RJ/RI/IGD | demand dan kapasitas |
| Kasus klinis | 10 besar penyakit, kasus jantung, stroke, IGD, ICU | justifikasi layanan unggulan |
| Rujukan | rujukan masuk, rujukan keluar, asal pasien, alasan rujukan | analisis jejaring regional |
| SDM | dokter umum, spesialis, subspesialis, perawat, nakes, non-nakes | gap SDM CMU |
| Alkes | daftar aset, umur, kondisi, utilisasi, kebutuhan baru | rencana pengadaan dan lifecycle costing |
| Bangunan | site plan, luas lahan, denah, utilitas, akses ambulans | kelayakan lokasi dan arsitektur |
| Keuangan | pendapatan BLUD, klaim BPJS, piutang, belanja, unit cost | analisis finansial |
| IT | SIMRS, RME, bridging BPJS, SISRUTE, dashboard | kesiapan smart hospital |

---

## BAB 4 Analisis SWOT dan Arah Strategis

### 4.1 Kekuatan

- Rumah sakit pemerintah daerah dengan dukungan regulasi dan pembiayaan pemerintah.
- Lokasi strategis sebagai rujukan Lampung Timur dan wilayah sekitar.
- CMU menjadi ikon transformasi layanan modern.
- Konsep one stop service dapat meningkatkan efisiensi alur pasien.
- Rencana layanan unggulan jantung selaras dengan prioritas KJSU nasional.
- Potensi peningkatan pendapatan BLUD melalui layanan spesialistik dan eksekutif.
- Dukungan digitalisasi SIMRS dan rekam medis elektronik.
- Peluang pengembangan fisik melalui ketersediaan lahan.

### 4.2 Kelemahan

- Keterbatasan dokter spesialis/subspesialis jantung, intensivis, anestesi, dan penunjang kritikal.
- Ketergantungan terhadap pembiayaan JKN/BPJS.
- Integrasi data layanan dan dashboard manajemen masih perlu diperkuat.
- Keterbatasan alat kesehatan berteknologi tinggi.
- Kapasitas ICU/ICCU/OK emergensi perlu diverifikasi dan kemungkinan ditingkatkan.
- Risiko biaya pemeliharaan gedung modern dan alkes tinggi.

### 4.3 Peluang

- SIHREN/KJSU-KIA menargetkan penguatan layanan madya di kabupaten/kota.
- Kemenkes mendorong pemenuhan alkes, SDM, dan sarpras layanan prioritas.
- KRIS mendorong modernisasi rawat inap.
- PTM seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan kanker menjadi tantangan kesehatan wilayah.
- Potensi layanan non-JKN dan eksekutif sebagai revenue center BLUD.
- Peluang kerja sama dengan RS pengampu, fakultas kedokteran, BPJS, dan pemerintah pusat.

### 4.4 Ancaman

- Persaingan dengan RS provinsi/swasta yang lebih lengkap.
- Perubahan tarif JKN dan regulasi pembiayaan.
- Kelangkaan dokter spesialis dan tenaga terlatih.
- Risiko alkes tidak optimal jika SDM, izin, dan maintenance tidak siap.
- Ekspektasi masyarakat terhadap mutu dan kecepatan layanan meningkat.
- Risiko keamanan data kesehatan pada implementasi RME dan dashboard digital.

### 4.5 Strategi prioritas

| Strategi | Fokus implementasi |
|---|---|
| SO | Menjadikan CMU sebagai platform layanan KJSU-KIA madya, khususnya jantung dan acute care |
| WO | Memanfaatkan dukungan Kemenkes/DAK/jejaring pengampuan untuk menutup gap SDM, alkes, dan sarpras |
| ST | Menguatkan mutu, digitalisasi, dan kecepatan layanan untuk menjaga daya saing regional |
| WT | Menerapkan pembangunan bertahap, lifecycle costing, dan mitigasi risiko operasional |

---

## BAB 5 Analisis Permintaan dan Kebutuhan Layanan

### 5.1 Dasar demand awal

Demand CMU dapat diturunkan dari:

1. tren peningkatan kebutuhan layanan cepat dan terintegrasi;
2. beban PTM dan kebutuhan layanan jantung;
3. kebutuhan penanganan kegawatdaruratan dan pasien kritikal;
4. sistem rujukan Lampung Timur dan kabupaten sekitar;
5. kebijakan nasional pemerataan layanan KJSU-KIA.

### 5.2 Layanan prioritas CMU

| Layanan | Justifikasi | Data final yang dibutuhkan |
|---|---|---|
| IGD modern terintegrasi | pintu masuk kasus akut dan rujukan | kunjungan IGD, response time, triase, kasus emergensi |
| Emergency cardiac response | selaras layanan jantung prioritas | kasus ACS, poli jantung, cath lab, rujukan jantung |
| Diagnostik cepat | mengurangi waktu tunggu dan perpindahan pasien | utilisasi radiologi/lab, turnaround time |
| OK emergensi/ruang tindakan | mendukung kasus akut | jumlah tindakan emergensi, jadwal OK, waiting time |
| ICU/ICCU/HCU | kebutuhan pasien kritikal dan jantung | BOR ICU, waiting list ICU, rujukan keluar ICU |
| Rawat inap KRIS | kewajiban standar JKN dan mutu rawat inap | kebutuhan TT, desain ruang, standar KRIS |
| Rehabilitasi medik jantung | kesinambungan layanan | jumlah pasien pasca tindakan, kebutuhan rehab |

### 5.3 Proyeksi demand

FS final perlu menghitung proyeksi minimal dengan tiga skenario:

- **konservatif**: pertumbuhan kunjungan mengikuti tren historis RSUD;
- **moderat**: pertumbuhan ditambah efek penguatan layanan jantung dan IGD;
- **optimistis**: pertumbuhan ditambah jejaring rujukan regional, cath lab, dan layanan eksekutif.

Indikator yang perlu dihitung:

- proyeksi kunjungan IGD;
- proyeksi kunjungan poli jantung;
- proyeksi kebutuhan ICU/ICCU;
- proyeksi rawat inap KRIS;
- proyeksi pendapatan BLUD per layanan;
- proyeksi penghematan rujukan keluar.

---

## BAB 6 Analisis Lokasi, Lingkungan, dan Sosial

### 6.1 Analisis lokasi awal

Konsep tapak dari PPT:

- luas total bangunan: ±4.800 m²;
- jumlah lantai: 4 lantai;
- dimensi tapak: ±42,5 m × 28,2 m;
- luas per lantai: ±1.200 m² gross area.

Kriteria kelayakan lokasi yang harus diuji:

1. akses ambulans dan drop-off IGD;
2. koneksi ke bangunan eksisting;
3. pemisahan alur pasien, pengunjung, staf, logistik, dan jenazah;
4. ketersediaan lahan parkir;
5. akses utilitas listrik, air, gas medik, IPAL, drainase, dan jaringan data;
6. risiko banjir/genangan;
7. kepatuhan terhadap tata ruang dan regulasi bangunan gedung rumah sakit.

### 6.2 Analisis lingkungan dan sosial

Pengembangan CMU harus memperhatikan:

- pengelolaan limbah medis dan domestik;
- kapasitas IPAL;
- keselamatan kebakaran dan evakuasi;
- dampak lalu lintas dan parkir;
- kebisingan dan kenyamanan lingkungan sekitar;
- persepsi masyarakat terhadap pengembangan layanan modern;
- akses kelompok rentan dan penyandang disabilitas.

---

## BAB 7 Master Program dan Program Fungsi CMU

### 7.1 Konsep utama

CMU berfungsi sebagai pusat layanan akut dan terintegrasi dengan alur:

```mermaid
flowchart TD
    A[Pasien / Rujukan Masuk] --> B[Drop-off dan Triase IGD]
    B --> C{Kategori Klinis}
    C -->|Gawat darurat| D[Resusitasi / Stabilisasi]
    C -->|Non-gawat darurat| E[Registrasi dan Pemeriksaan Awal]
    D --> F[Diagnostik Cepat]
    E --> F
    F --> G{Keputusan Layanan}
    G -->|Cardiac emergency| H[Emergency Cardiac Response]
    G -->|Tindakan| I[OK Emergensi / Ruang Tindakan]
    G -->|Kritis| J[ICU / ICCU / HCU]
    G -->|Observasi| K[Observasi Akut]
    H --> J
    I --> J
    K --> L[Rawat Inap KRIS / Pulang / Rujuk]
    J --> L
    L --> M[Rehabilitasi / Kontrol]
```

### 7.2 Program fungsi per lantai

| Lantai | Fungsi utama | Catatan teknis |
|---|---|---|
| 1 | IGD modern, triase, resusitasi, diagnostik cepat, lab cepat, farmasi satelit | harus punya akses ambulans langsung, alur cepat, dan pemisahan infeksi/non-infeksi |
| 2 | OK emergensi, ruang tindakan, diagnostik lanjutan, observasi akut | perlu hubungan vertikal cepat ke IGD dan ICU |
| 3 | ICU, ICCU, HCU, isolasi kritikal | butuh MEP tinggi, gas medik, nurse station efektif, dan kontrol infeksi |
| 4 | Rawat inap KRIS / rawat inap transisi / layanan jantung terpadu | desain mengikuti 12 kriteria KRIS dan kebutuhan rawat inap standar |

### 7.3 Prinsip desain

- one stop service;
- alur pasien pendek dan jelas;
- zonasi bersih-kotor;
- pemisahan publik, semi publik, steril, dan servis;
- aksesibilitas universal;
- modular dan mudah dikembangkan;
- kesiapan MEP rumah sakit;
- integrasi SIMRS, RME, dashboard, dan nurse call.

---

## BAB 8 Perencanaan Arsitektur dan MEP

### 8.1 Arsitektur

Kriteria desain awal:

- bangunan 4 lantai dengan ekspresi modern sebagai ikon RSUD;
- fasad mudah dirawat dan sesuai iklim tropis;
- layout fleksibel untuk perubahan kebutuhan layanan;
- orientasi akses IGD jelas dari jalan internal;
- tersedia akses terpisah untuk ambulans, pasien rawat jalan/keluarga, staf, logistik, dan servis;
- hubungan vertikal cepat antara IGD, tindakan, ICU/ICCU, dan rawat inap;
- ruang rawat inap memperhatikan prinsip KRIS dan aksesibilitas.

### 8.2 MEP rumah sakit

Kebutuhan MEP kritikal:

| Sistem | Kebutuhan utama |
|---|---|
| Listrik | suplai utama, genset, UPS untuk area kritikal, panel terpisah area medis |
| Gas medik | oksigen, vakum, medical air, manifold, monitoring tekanan |
| HVAC | kontrol temperatur, ventilasi, tekanan ruang sesuai fungsi, filtrasi area kritikal |
| Plumbing | air bersih, air panas area tertentu, drainase, backflow prevention |
| Limbah | limbah cair medis, limbah domestik, integrasi IPAL, pemilahan limbah B3 |
| Fire safety | alarm kebakaran, sprinkler/hydrant sesuai desain, jalur evakuasi, kompartemenisasi |
| IT dan low current | jaringan data, nurse call, CCTV, access control, SIMRS/RME, dashboard |

### 8.3 Persyaratan rawat inap KRIS

Ruang rawat inap di CMU perlu mengakomodasi 12 kriteria KRIS:

1. komponen bangunan tidak berporositas tinggi;
2. ventilasi udara;
3. pencahayaan ruangan;
4. kelengkapan tempat tidur;
5. nakas per tempat tidur;
6. temperatur ruangan;
7. pemisahan ruang berdasarkan jenis kelamin, anak/dewasa, infeksi/non-infeksi;
8. kepadatan ruang dan kualitas tempat tidur;
9. tirai/partisi antar tempat tidur;
10. kamar mandi dalam ruangan;
11. kamar mandi memenuhi aksesibilitas;
12. outlet oksigen.

---

## BAB 9 Kebutuhan SDM, Alat Kesehatan, dan Digitalisasi

### 9.1 Kebutuhan SDM awal

| Area | Kebutuhan SDM kunci |
|---|---|
| IGD | dokter emergensi/dokter umum terlatih, perawat IGD, petugas triase, analis lab, radiografer |
| Jantung | dokter spesialis jantung, perawat jantung, teknisi cath lab bila layanan dikembangkan |
| ICU/ICCU/HCU | intensivis/anestesi, dokter penanggung jawab ICU, perawat ICU, fisioterapis, farmasi klinik |
| OK emergensi | dokter bedah/anestesi, perawat OK, penata anestesi, CSSD |
| Digital | admin SIMRS, analis data, IT support, keamanan informasi |
| Manajemen | case manager, coder INA-CBG, analis klaim, unit cost/costing |

### 9.2 Kebutuhan alat kesehatan awal

Daftar indikatif alkes perlu disusun rinci dalam RAB final. Kebutuhan awal meliputi:

- monitor pasien, defibrillator, ventilator transport, syringe/infusion pump;
- ECG, echocardiography, treadmill test bila dikembangkan;
- alkes resusitasi IGD dan cardiac emergency;
- bed ICU/ICCU/HCU, central monitor, ventilator, HFNC sesuai kebutuhan;
- peralatan OK emergensi dan minor procedure;
- dukungan radiologi/lab cepat;
- nurse call, bedside terminal, dan integrasi RME.

### 9.3 Digitalisasi

CMU perlu dirancang sebagai **smart hospital workflow** dengan:

- RME penuh di area CMU;
- integrasi IGD, radiologi, lab, farmasi, ICU, rawat inap, dan billing;
- dashboard real time untuk BOR, waktu tunggu, response time, status TT, utilisasi ICU, dan klaim;
- bridging BPJS dan SISRUTE;
- keamanan data, audit trail, role-based access, dan backup.

---

## BAB 10 Estimasi Biaya dan Pembiayaan

### 10.1 Asumsi biaya awal

Asumsi dari PPT:

| Skenario | Biaya per m² | Estimasi total untuk 4.800 m² |
|---|---:|---:|
| Struktur dan arsitektur RS standar | Rp9-11 juta | Rp43,2-52,8 miliar |
| Struktur, arsitektur, dan MEP RS | Rp12-15 juta | Rp57,6-72,0 miliar |
| High-end/premium | >Rp18 juta | >Rp86,4 miliar |

Biaya tersebut belum termasuk:

- alat kesehatan;
- IT dan sistem digital;
- interior dan furniture;
- konsultan perencana, DED, MK, dan pengawasan;
- perizinan;
- pajak;
- site development dan utilitas eksternal;
- cadangan risiko dan eskalasi biaya.

### 10.2 Alternatif pembiayaan

| Sumber | Potensi penggunaan | Catatan |
|---|---|---|
| APBD | konstruksi dasar, site development | perlu prioritas RPJMD/RKPD |
| DAK Fisik Kesehatan | sarpras/alkes prioritas | selaras dengan KJSU-KIA/SIHREN |
| BLUD | co-financing, maintenance, operasional awal | perlu proyeksi cashflow |
| Hibah pusat/provinsi | alkes prioritas, digitalisasi | perlu proposal dan kesiapan operasional |
| KPBU/kerja sama | fasilitas pendukung non-klinis | perlu kajian risiko dan skema legal |

### 10.3 Analisis finansial yang perlu dibuat

FS final perlu memuat:

- estimasi capex konstruksi, MEP, alkes, IT, dan interior;
- estimasi opex tahunan;
- proyeksi pendapatan JKN, non-JKN, eksekutif, dan layanan penunjang;
- unit cost layanan prioritas;
- analisis affordability APBD/BLUD;
- skenario payback untuk layanan revenue center;
- sensitivitas tarif, volume pasien, dan biaya maintenance.

---

## BAB 11 Risiko dan Mitigasi

| Risiko | Dampak | Mitigasi |
|---|---|---|
| SDM spesialis belum tersedia | layanan jantung/ICU tidak optimal | kerja sama RS pengampu, fellowship, kontrak layanan, pelatihan bertahap |
| Alkes tidak termanfaatkan | kerugian aset dan pemborosan | pastikan izin, SDM, ruangan, maintenance, dan SOP sebelum pengadaan |
| Biaya investasi meningkat | proyek tertunda atau scope berkurang | desain bertahap, value engineering, cadangan risiko |
| Pembiayaan JKN berubah | cashflow BLUD terganggu | diversifikasi layanan non-JKN, efisiensi unit cost, manajemen klaim |
| Integrasi digital gagal | data tidak real time, proses lambat | tata kelola IT, interoperabilitas, pelatihan user, cybersecurity |
| Overload pasien | mutu dan keselamatan turun | triase kuat, bed management, jejaring rujukan, monitoring KPI |
| Maintenance MEP/alkes tinggi | beban operasional meningkat | lifecycle costing dan kontrak pemeliharaan sejak awal |

---

## BAB 12 Roadmap Implementasi 2026-2030

| Tahun | Fokus | Output utama |
|---|---|---|
| 2026 | finalisasi FS, master plan, DED, pematangan pembiayaan | dokumen FS final, DED, RAB, proposal pembiayaan |
| 2027 | pembangunan tahap awal dan quick wins layanan | konstruksi awal, penguatan IGD, dashboard dasar |
| 2028 | penguatan ICU/ICCU, diagnostik, dan SIMRS/RME | ICU/ICCU siap, integrasi RME, SDM terlatih |
| 2029 | pengembangan layanan jantung lanjutan dan revenue center | layanan jantung terpadu, cath lab bertahap bila siap, layanan eksekutif |
| 2030 | optimalisasi CMU dan evaluasi KPI | evaluasi mutu, finansial, rujukan, dan roadmap lanjutan |

### KPI awal

| Domain | KPI contoh |
|---|---|
| Akses | waktu triase IGD, response time cardiac emergency, waktu tunggu diagnostik |
| Kapasitas | BOR ICU/ICCU, BOR KRIS, utilisasi OK emergensi |
| Mutu | mortality ICU, readmission, kejadian keselamatan pasien |
| Keuangan | pendapatan BLUD per layanan, klaim tertunda, unit cost |
| Digital | persentase layanan memakai RME, kelengkapan data, dashboard aktif |
| Rujukan | rujukan keluar jantung/kritikal, rujukan masuk regional |

---

## BAB 13 Kesimpulan dan Rekomendasi

### 13.1 Kesimpulan awal

1. Pengembangan CMU layak dilanjutkan ke kajian rinci karena selaras dengan visi RSUD, kebutuhan layanan akut, dan kebijakan nasional rujukan KJSU-KIA.
2. Indikator ekonomi Lampung Timur 2020-2025 menunjukkan tren positif yang mendukung peningkatan kebutuhan layanan kesehatan modern.
3. Konsep bangunan 4 lantai ±4.800 m² cukup relevan sebagai platform awal integrasi IGD, diagnostik, tindakan, ICU/ICCU/HCU, dan rawat inap KRIS.
4. Estimasi awal biaya konstruksi-MEP berada pada kisaran Rp57,6-72 miliar, tetapi total kebutuhan proyek akan lebih tinggi setelah memasukkan alkes, IT, interior, konsultan, pajak, site development, dan risiko.
5. Kelayakan final sangat bergantung pada data operasional RSUD, kesiapan SDM, kesiapan alkes, status lahan, dan analisis finansial BLUD/APBD.

### 13.2 Rekomendasi tindak lanjut

1. Lakukan pengumpulan data internal RSUD minimal 3-5 tahun terakhir.
2. Susun master plan, DED, dan RAB rinci berbasis kebutuhan ruang final.
3. Verifikasi lokasi tapak, utilitas, akses ambulans, drainase, IPAL, dan parkir.
4. Susun roadmap SDM jantung, ICU, IGD, radiologi, lab, IT, dan manajemen klaim.
5. Susun proposal pembiayaan ke APBD, DAK, Kemenkes, dan/atau sumber lain.
6. Pastikan desain rawat inap memenuhi prinsip KRIS dan area kritikal memenuhi standar ICU/ICCU.
7. Integrasikan SIMRS/RME/dashboard sejak tahap desain, bukan setelah bangunan selesai.
8. Lakukan analisis demand dan finansial tiga skenario sebelum keputusan investasi final.

---

## Lampiran A. Daftar Sumber Eksternal Hasil Exa MCP

| Topik | Sumber | Poin penting |
|---|---|---|
| SIHREN/KJSU-KIA | Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, `https://keslan.kemkes.go.id/read/1788/sihren-diskusi-tematik-ditjen-yankes-rakerkesnas-2024` | SIHREN memperkuat layanan rujukan KJSU-KIA di 514 kab/kota dengan target minimal RS madya pada 2027 |
| Transformasi layanan rujukan | Kemenkes, `https://kemkes.go.id/id/kemenkes-perluas-layanan-kjsu-ke-rs-tni-polri-perguruan-tinggi` | Layanan KJSU diperluas untuk meningkatkan akses, mutu, alkes, SDM, dan sarpras prioritas |
| KRIS | Antara News, `https://www.antaranews.com/berita/4101879/kemenkes-godok-aturan-menteri-terkait-teknis-kris` | KRIS mengarah pada 12 kriteria fasilitas rawat inap dan penerapan bertahap hingga 2025 |
| Morbiditas Lampung Timur | Hasil Exa/BPS Lampung 2024 | Lampung Timur tercatat memiliki keluhan kesehatan ±26,09% dan angka kesakitan ±10,06%; perlu verifikasi dokumen BPS asli untuk sitasi final |
| PTM Lampung Timur | Dinas Kesehatan Lampung Timur, `https://dinkeslampungtimur.com/` | PTM seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker menjadi isu kesehatan wilayah |

## Lampiran B. Data yang Harus Diverifikasi Sebelum FS Final

- Nama resmi dan kelas RSUD terbaru.
- Jumlah tempat tidur eksisting dan rencana.
- BOR, ALOS, TOI, BTO, NDR, GDR 3-5 tahun.
- Kunjungan rawat jalan, rawat inap, IGD, poli jantung.
- Kasus 10 besar penyakit, kasus jantung, stroke, ICU, dan rujukan.
- Ketersediaan dokter spesialis jantung, anestesi, penyakit dalam, bedah, radiologi, patologi klinik, dan intensivis.
- Status layanan cath lab/echocardiography bila sudah tersedia atau direncanakan.
- Site plan, denah eksisting, luas lahan, status kepemilikan, dan utilitas.
- Data keuangan BLUD, klaim BPJS, piutang, belanja, dan unit cost.
- Kebijakan daerah: RPJMD/Renstra Dinkes/Renstra RSUD/RKPD terkait pengembangan RSUD.